Setelah Yogyakarta saya tinggalkan sejak tahun 1986, pada akhir bulan Maret 2004 ini saya kembali mengunjungi Yogyakarta dalam rangka mengikuti acara Workshop Policy Analysis yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kependudukan dan Kebijakan UGM. Selama dua pekan di sini, saya mencatat berbagai perubahan yang terlihat berdasarkan pengalaman berkenderaan menyusuri jalanan Kota Yogyakarta yang Berhati Nyaman.
Delapan belas tahun yang lalu, seorang tetangga di Bintaran menyanyikan sebuah lagu dengan dua baris dari lyricnya yang masih saya ingat:
“Yogyakarta kau ramah tapi kejam,
Kau lembut tapi berbisa…dst”
Ternyata Yogyakarta telah berubah. Tidak seperti liric yang dikumandangkan teman itu. Beberapa perubahan itu saya candra dengan mengendarai bus, mobil pribadi dan sepeda motor. Dari atas roda-roda kendaran tersebut saya melintas diseputar Yogyakarta; ngalor-ngidul dan ngulon-ngetan.
Tak Lagi Ramah
Seorang teman yang sesama alumni UGM namun telah bermukim kembali selama 4 tahun ini di Yogyakarta, saya ajak berjalan-jalan sambil bernostalgia mengenang masa-masa lalu semasih menjadi mahasiswa. Kesan awal adalah lalu lintas Yogyakarta tak lagi ramah dan mulai serasa mengancam. Deru tarikan gas sepeda motor yang bergerak seperti berlomba setiap kali dapat membuat kita tersentak. Dari atas bus dan mobil pribadi, sentakan suara tarikan gas tersebut tidak terasa. Namun, jika mengendarai sepeda motor we lha. Kemungkinan, itu yang menyebabkan mengapa masyarakat Yogyakarta sekarang ini lebih tergoda untuk memiliki mobil pribadi.
Temanku menyatakan pandangannya, jika berkendaraan merupakan wujud kebudayaan maka gaya berkendaraan yang mode sekarang ini bukan merupakan bagian perwujudan kebudayaan atau kultur Jawa. Apalagi kebudayaan segi-tiga emas Jawa (Yogyakarta-Solo-Semarang) yang terkenal ramah dan santun penuh unggah-ungguh. Jika lalu-lintas mulai tak ramah, maka itu sebagian besar sumbangan pelajar/mahasiswa pendatang dari seluruh Nusantara yang sekaligus juga ikut menyumbang terhadap geliat ekonomi masyarakat. Jadi, Yogyakarta menerima tumpahan yang besifat positif maupun negatif. Untuk tumpahan yang bersifat negatif, Yogyakarta menjadi semacam “keranjang sampah” menerima perilaku-perilaku buruk yang dibawa para pendatang. Perilaku positif maupun negatif bentukan baru hasil interaksi antar sesama pendatang maupun antara pendatang dengan masyarakat setempat juga akan tinggal dan menjadi warna baru Yogyakarta. Untuk hal ini diuji kemampuan kultur Yogyakarta yang pada hakekatnya memiliki daya tahan sekaligus daya adaptasi terhadap setiap unsur yang berbau asing.
Dalam berlalu-lintas daya tahan budaya Jawa ternyata tidak sekuat daya tahannya dalam hal berbahasa, bertata-krama dan menjaga wibawa. Gejala tersebut sekaligus menandai bahwa desakan pengaruh luar ternyata teramat sulit dihempang, walau dalam berbagai hal lain Yogyakarta masih lebih ramah dari kota-kota besar lainnya di Indonesia. Gaya layanan dan tarif produk khas Yogyakarta, seperti makan gudeg lesehan di Malioboro, makanan untuk oleh-oleh dan beberapa produk kerajinan tangan telah mulai bergaya “berorientasi eksport”, bertarif kualitas eksport, dengan harga yang lebih mahal pula. Ini juga merupakan bagian dari ketidakramahan Yogyakarta masa kini. Keramahan dan kemurahan masa lalu telah mulai berubah menjadi cenderung bersemangat lomba memupuk keuntungan ala kapitalis global.
Adakah yang salah dengan perkembangan tersebut ? Tentu saja tidak. Semuanya itu menjadi gejala umum di perkotaan besar, termasuk berbagai ekses lain seperti perjudian, komersialisasi seks dan kejahatan/kerawanan keamanan. Namun, Yogyakarta sebagai gudang kaum arif dan intelektual harus mampu menghindar dari gejala umum yang merugikan tersebut, sehingga tetap sebagai tempat yang unik dan menggoda hati untuk mengunjunginya.
Masih Lembut Tapi Berbisa
Soal kelembutan, Yogyakarta masih tetap lembut pada lingkungan kampung. Namun cenderung berbisa seperti layaknya kota besar lain, pada lingkungan jalan raya. Dari salah satu hotel saya saksikan keluar seratusan anak muda dengan menaiki sepeda motor. Dari orang-orang sekitar, saya dapat info bahwa anak-anak muda tersebut baru selesai menghadiri pesta temannya yang merayakan hari ulang tahun di hotel. Wah, ini juga sesuatu yang teramat jarang terdengar di masa lalu. Apalagi penampilan para anak muda yang lumayan mirip dengan anak muda pada cerita film western. Raungan mesin sepeda motor yang digas kuat-kuat, riuh rendah terdengar memekakkan telinga. Tapi toh semua itu belum sebegitu mengkuatirkan dibandingkan dengan kota-kota besar lain seperti Jakarta, Surabaya, Semarang atau Medan.
Saya juga dengar bahwa kenakalan remaja juga telah meningkat dengan munculnya gang remaja belia yang sering terlibat tawuran. Gejala ini malahan telah menumbuhkan kekuatiran pada kalangan mahasiswa yang termasuk kelompok tekun belajar. Mereka menganggap kenyamanan Yogyakarta sebagai kota tempat menuntut ilmu kian terancam. Kini niat untuk bersantai sambil mengingat-ingat pelajaran di pinggir jalan seusai belajar keras di rumah kost kian padam. Kuatir terseret tawuran secara tidak sengaja.
Turun dari Pakem menuju Yogyakarta, kami nyelusup-nyelusup melalui perkampungan yang pada masa lalu jalannya masih belum beraspal. Namun, kini jalan-jalan yang dilalui seluruhnya telah beraspal, dan rumah-rumah di sepanjang jalan seperti tiba-tiba tumplek bheg muncul. Siapa yang bermukim di rumah-rumah yang baru maupun kompleks perumahan yang muncul ibarat jamur tersebut ? Dari teman, saya dapat info tidak hanya di wilayah menuju Kaliurang saja, melainkan hampir di seluruh wilayah kota Yogyakarta (kecuali di sekitar Piyungan) pemukiman berkembang pesat. Pemukim baru itu umumnya adalah para pendatang/mahasiswa, mereka yang membuka usaha melayani kebutuhan mahasiswa, mereka yang berusaha mereguk keuntungan dari sektor bisnis properti dan mereka yang berniat menjalani pensiun di Yogyakarta.
Barangkali ada benarnya, Yogyakarta beranjak menuju metropolitan disertai dengan segenap penyakit masyarakat kota metropolitan di Indonesia. (Baca Tulisan Adde Marup Wirasenjaya, Kompas Edisi Jateng & Yogyakarta, 5 Maret 2004) Gejala ini yang menimbulkan kekuatiran, yakni Yogyakarta lebih banyak bisanya daripada lembutnya.
Mungkin saya harus mengurungkan niat untuk mengirim anak melanjutkan sekolah di kota yang kian berbisa. Dan, mudah-mudahan tidak banyak anggota masyarakat Indonesia yang pasang ancang-ancang seperti itu.
Harus Tetap Ramah dan LembutDua hal penting daya tarik Yogyakarta adalah pendidikan dan pariwisata. Aspek lainnya lebih merupakan hasil spread effect dari kedua kegiatan tersebut. Yang menjadi persoalan adalah agar bidang-bidang yang tumbuh sebagai forward dan backward effect tidak justru menghancurkan kedua bidang utama di atas. Gejala meningkatnya biaya hidup sebagai akibat peningkatan harga-harga sewa kost maupun makanan sehari-hari, peningkatan biaya pendidikan secara tajam, peningkatan kemacetan lalu lintas, peningkatan kriminalitas, peningkatan ketidakramahan dan ketidaklembutan masyarakat harus dicermati sejak dini. Yogyakarta harus tetap ramah dan lembut untuk menjadikannya sebagai kota yang paling ingin didatangi oleh pelajar maupun pelancong. Pemerintah Daerah kelihatannya cukup tanggap mengantisipasi masalah-masalah tersebut pada tingkat wacana. Namun tentu tidak layak jika hanya berhenti pada wacana. Langkah-langkah berikutnya adalah tindakan. Menata Yogyakarta agar tetap nyaman dan menjadikan orang yang pernah tinggal untuk tetap ingin kembali berkunjung, melanjutkan studi atau mengirim anaknya untuk studi.
No comments:
Post a Comment