Thursday, August 8, 2013
Lapis Dua
Thursday, March 14, 2013
DIALOG KOAI-LOJIN DENGAN SUMA HAN
Tuesday, January 17, 2012
Membangun Karo Itu Mudah!
Ada yang berpendapat bahwa membangun Kabupaten Karo itu mudah! Alasannya sederhana: masyarakatnya telah maju; mereka telah memiliki kemampuan untuk membangun diri sendiri. Karena itu, membangun Karo tidaklah lagi memerlukan konsep dan disain rancangan pembangunan yang complicated. Pemerintah secara sederhana cukup membangun infrastruktur (utamanya jalan raya), serta memberikan dukungan untuk memperlancar usaha-usaha yang telah dan akan dilakukan sektor swasta dan masyarakat dalam pembangunan.
Modal Sosial
Siapa yang mempercayai pendapat itu? Menjawab pertanyaan itu, ada dua kelompok: Kelompok optimis dan kelompok pesimis yang memiliki sikap yang berbeda. Kelompok optimis diwakili oleh orang-orang yang senantiasa berfikir positif atas situasi kondisi di Kabupaten Karo. Menurut mereka, setiap masalah yang dihadapi dapat diatasi asal bersedia secara bersama-sama saling membahu mulai dari mengenal, menyusun strategi hingga mengatasi masalah.
Dengan memakai ungkapan lain, ada yang menyatakan masyarakat Karo memiliki modal sosial yang kuat. Modal sosial yang kuat ini cukup sebagai bekal untuk membangun diri mengejar ketertinggalan dari masyarakat lain. Yang penting masyarakat dengan pemimpin memiliki visi untuk membangun dirinya, arah yang harus dituju untuk mencapai kemajuan yang dicita-citakan. Kesemua ini didukung oleh kepemilikan akan sumber daya ekonomi yang cukup yang didukung dengan sumber daya alam yang potensial. Maka sebenarnya bekal untuk membangun Kabupaten Karo sudah cukup tanpa harus menunggu uluran tangan pihak lain.
Kelompok pesimis dari dulu hingga hari ini tidak pernah melihat potensi besar Kabupaten Karo untuk maju melebihi daerah-daerah lainnya. Alasannya banyak, namun yang terutama adalah ketidakmampuan masyarakat dan pemerintah Karo untuk merumuskan masalah. Alasan lainnya ACC (Anceng Cian dan Cikurak-Sikap usil iri dan suka membicarakan keburukan orang). Sikap ini telah menghalangi kemampuan untuk melihat dan mengatasi masalah. Yang paling sering muncul dari situasi ACC ini adalah siapa pun yang berinisiatif segera dilihat sebagai “masalah” sehingga setiap orang cenderung tidak bersedia ambil inisiatif agar tidak dituding sebagai “problem maker”. Kelompok ini terlalu suka untuk mengasumsikan bahwa seolah-olah orang Karo tidak mampu berubah. Atas dasar asumsi itu, mereka kemudian mengatakan susah membangun Karo, karena itu tidak usah dibangun!
Peran Pemerintah
Pasti dukungan dari pemerintah daerah diperlukan untuk membangun. Pemerintah Daerah harus kreatif untuk menggunakan potensi yang ada menjadi menjadi berbagai produk yang mendukung proses pembangunan atau bernilai ekonomis. Konkritnya potensi yang ada seharusnya dirubahwujudkan menjadi infrastruktur untuk mendukung proses pembangunan, dan proses pembangunan sendiri sekaligus menghasilkan berbagai hal yang bernilai ekonomi dan meciptakan kesempatan bagi masyarakat mengakumulasi modal.
Peran pemerintah daerah adalah menciptakan kesempatan dan mendorong masyarakat untuk membangun dirinya. Soal ini tampaknya sangat abstrak. Namun, bagi mereka yang memiliki pemahaman tentang proses pemerintahan dan hasil-hasil yang dapat diproduk olehnya, segera tahu apa yang harus dilakukan. Namun bagi mereka yang tidak memahaminya, akan menghadapi masalah yang pelik. Ibarat menunggang kuda, hanya mereka yang terbiasa yang mampu memanfaatkannya sebagai kenderaan untuk maju ke depan. Bagi yang tidak tahu, salah-salah mereka yang akan terjungkal!
Yang paling sering terjadi adalah mereka yang ada dalam organisasi pemerintahan daerah lebih suka membiarkan kuda tertambat di tempatnya ketimbang menunggang untuk bergerak maju, karena takut salah menunggang dan terjungkal. Maka pemerintah hanya jalan ditempat: fokusnya hanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rutin sambil mendapatkan rente untuk kepentingan pribadi.
Peran Pemimpin Lokal
Setiap orang, tanpa harus mengundang tenaga ahli akan berkata bahwa pemimpin lokal punya peran strategis untuk membangun masyarakat. Peran utamanya adalah memberikan inspirasi untuk membangun dan mendorong masyarakat. Maka yang utama peran pemimpin dalam membangun Karo ke depan adalah berdialog dengan masyarakat hari demi hari tentang satu masalah hingga ke masalah lain. Berdasarkan hasil percakapan tersebut pemimpin mulai merancang upaya untuk memecahkan masalah secara tulus dan berkelanjutan hingga masalah dapat diatasi.
Dalam memecahkan masalah pemimpin harus berada di depan menjadi figur anutan masyarakat. Pemimpin justru harus berpantang menciptakan masalah (problem maker) di hadapan masyarakat. Mereka harus memberikan inspirasi bagi setiap orang yang melihatnya bahwa semua orang berkesempatan dan mampu mengatasi masalahnya masing-masing hingga seluruh anggota masyarakat berkemampuan mengatasi masalahnya.
Kabar yang terdengar lamat-lamat dari tanah Karo adalah bahwa pimpinan puncak lokal tidak berniat menjadikan jabatannya sebagai sumber ekonomi melainkan sumber peluang untuk memperbaiki pemerintahan. Karena itu, pemimpin berusaha memperlihatkan ciri-ciri pemimpin yang baik yakni tegas dan tanggap terhadap setiap situasi. Namun, respons yang muncul dari berbagai orang yang selama ini ikut terlibat dalam proses pemerintahan adalah enggan mengambil inisiatif dengan alasan tidak bersedia menanggung risiko mendapatkan sanksi dari atasan. Ini merupakan respons khas kaum pesimis.
Situasi ini terasa ganjil, namun manusiawi. Karena itu, mari secara bersama-sama menghindari keganjilan ini dengan melihat bahwa membangun Tanah Karo itu pada hakekatnya mudah jika ada kebersamaan. Dengan demikian, tidak ada yang terbebani dengan berbagai kemungkinan hal buruk yang menimpa ketika dia sedang berjuang untuk membangun untuk kepentingan bersama.
Mengapa membangun Kabupaten Karo itu mudah? Karena yang perlu disiapkan yang utama dan terutama adalah hanya berupa rancangan membangun dan memperbaiki infrastruktur dan disain dukungan pemerintah terhadap usaha-usaha yang dilakukan masyarakat. Setelah itu, ajak masyarakat secara bersama-sama membangun Tanah Karo tercinta tanpa ACC! (Harian Sinar Indonesia Baru, 16 Januari 2012, Hal.13)
Thursday, July 14, 2011
Menguak Peran Mahasiswa
Oleh P. Anthonius Sitepu/Robinson Sembiring
Kehidupan mahasiswa digugat lagi. St Sularto/Pramono BS lewat tulisan berjudul Protes Sana, Protes Sini (Kompas, 5 Agustus 1988) menyuratkan terjadinya penyempitan orientasi kegiatan mahasiswa serta kian tumbuhnya pragmatisme di kalangan mahasiswa kita.
Sementara itu, Dr Soedjatmoko mengemukakan adanya dilema pokok yang dihadapi perguruan tinggi/universitas di negara-negara Dunia Ketiga, yakni antara kedudukannya sebagai perangkat yang berfungsi mengejar keterbelakangan di bidang ilmu dan teknologi… dengan kedudukannya yang berfungsi dan mendidik ahli-ahli untuk keperluan mayoritas miskin dan terbelakang (Kompas, 9 Agustus 1988). Selanjutnya Soedjito mengemukakan perlunya masyarakat kampus keluar, dan tidak mengungkung diri dalam kampus tanpa melihat realitas yang terjadi di luar (Kompas, 10 Agustus 1988). Beranjak dari kenyataan selama ini, setidaknya terdapat tiga pandangan dalam kaitannya dengan peran yang harus dimainkan mahasiswa.
Belum Dewasa
Pandangan pertama menganggap bahwa mahasiswa seharusnya tidak perlu terlalu banyak urusan di luar dunianya. Sejalan dengan konsep tradisional tentang perkembangan hidup manusia, mahasiswa digolongkan kedalam masyarakat yang belum dewasa. Mereka dianggap belum memenuhi persyaratan tampil menangani masalah yang seharusnya diserahkan kepada orang dewasa. Mereka dianggap sedang berada dalam kehidupan peralihan menuju tingkat kedewasaan. Mereka dianggap belum memenuhi persyaratan untuk hidup sebagai orang dewasa. Karena itu, hak dan kewajibannya pun belum dianggap penuh seperti halnya orang dewasa.
Sebagai orang yang mempersiapkan diri memasuki kehidupan secara penuh, mahasiswa ditugaskan untuk belajar. Hak mereka disesuaikan dengan tugas itu. Sebagai orang -golongan- yang mempunyai hak dan kewajiban seperti itu, mahasiswa dianggap tidak mempunyai hak untuk mengembangkan diri menjadi kekuatan politik. Sebab politik dan organisasinya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang dewasa. Orang dewasalah yang penuh untuk memasuki dunia politik karena mereka dianggap sudah matang dan dapat bertanggung jawab untuk mengendalikan kehidupan masyarakat melalui politik.
Harus Mampu
Pandangan kedua menganggap mahasiswa harus mampu menangkap dan menguasai aspirasi masyarakat. Mereka dibesarkan dan dibiayai oleh masyarakat. Karena itu kewajiban mereka adalah membela kepentingan masyarakat. Dalam ungkapan lain, mereka seharusnya berfungsi sebagai sosial kontrol bagi praktek kekuasaan. Karena dalam hal ini sumber kekuasaan yang berasal dari masyarakat, dan karena masyarakat secara keseluruhan tidak dapat menjalankan kekuasaan tersebut, maka didelegasikalah kekuasaan-kekuasaan mereka kepada sekelompok orang yang dipercayai yang diharapkan akan dapat membela dan akan melayani kepentingan mereka yang disebut elite.
Namun elite juga sebagai sekelompok manusia yang memiliki kepentingan sendiri. Maka praktek kekuasaan mereka harus dibatasi agar tetap berada di jalur kepentingan masyarakat. Untuk itulah kiranya kontrol diperlukan.
Mahasiswa dalam hal ini dapat dikatakan sebagai bagian anggota masyarakat yang mempunyai potensi (energik, relatif muda, berani) seharusnya mampu dan bersedia menjalankan fungsinya. Terlebih lagi mereka adalah kelompok yang belum banyak terikat oleh kepentingan pribadi.
Pandangan ini cenderung dimiliki oleh mahasiswa sehingga mereka berkecenderungan senantiasa mengamati kelemahan kebijaksanaan pemerintah dan melontarkan kritik. Akibatnya mereka cenderung bertentangan dengan pemerintah.
Partner Pemerintah
Pandangan ketiga menganggap mahasiswa diperlakukan sebagai partner pemerintah. Pemerintah dan mahasiswa secara bersama-samaadalah bagian dari masyarakat yang posisinya berada di bagian terdepan. Pemerintah dan mahasiswa secara bersama-sama pula memikirkan dan malayani kepentingan masyarakat. Secara bersama-sama mereka membangun segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kerangka pencapaian tujuan atau cita-cita nasional, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata berdasarkan Pancasila dan UUD’45 melalui pembangunan nasional.
Sebagai partner pemerintah mahasiswa ikut dibelakang pemerintah, berbisisk-bisik memperingatkan manakala terdapat kekurangan dan kekeliruan. Untuk menutupi kekurangan atau kelemahan yang wajar dimiliki pemerintah, mahasiswa merasa mampu memberikan pemikiran, alternatif yang memungkinkan dapat memberikan masukan kepada pihak pemerintah dalam hal ini berkaitan dengan program pembangunan dan pembuatan kebijaksanaan nasional.
Manakala pemerintah menemui jalan buntu untuk menangani suatu masalah, penampilan mahasiswa berarti sangat membantu, dalam hal memberikan alternatif yang diperlukan. Dalam posisi ini mahasiswa tidak banyak nbersikap menuntut, dan sepantasnya mereka tidak menunjukkan sikap yang dapat menjatuhkan wibawa pemerintah. Sebaliknya, antara pemerintah dan mahasiswa sebaiknya bahu-membahu demi mengemban penderitaan rakyat banyak ini.
Aktivitas mahasiswa
Beranjak dari pandangan yang tidak seragam tadi, terutama menyangkut role expectant mahasiswa, membawa pengaruh ketidakparipurnaan dukungan terhadap aktivitas mahasiswa. Mahasiswa tidak pernah yakin akan kelurusan jalan yang mereka tempuh sebagai akibat terciptanya pagar penghalang, hasil ketidakseragaman pandangan role expectant mereka. Dikaitkan dengan nilai-nilai “ketimuran” barangkali peranan paling ideal yang dijalankan mahasiswa adalah sebagai partner pemerintah.
Selamai ini mahasiswa sudah terlanjur mencatatkan diri sebagai kelompok masyarakat ilmiah yang mempunyai tanggungjawab moral untuk melihat lingkungan sekitarnya dari perpektif keilmuan. Artinya, mereka dituntut secara moral berperan sebagai agent of change atas kekurangan yang timbul ditengan masyarakat, terutama akaibat kurang berfungsinya kekuatan-kekuatan sosial politik yang ada.
Ilmu yang mereka peroleh dibangku kuliah seakan menjadi modal dan alat yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengubah kondisi yang berkembang tidak proporsional. Oleh sebab itu, dapat diterima bahwa sering tampilnya sikap yang kurang kompromistis pada golonbgan mahasiswa terhadap setiap ketimpangan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Kondisi ini secara psikologis diperkuat oleh pengetahuan mereka tentang sukses yang dialami oleh golongan mahasiswa (Angkatan’66), sehingga makin memp-ertebal keyakinan bahwa golongan mahasiswa senantiasa menjadi figur sentral yang membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat.
Di pihak lain, secara psikologis pula pemerintah masih sulit menerima golongan ini menjadi partner karena sifat dan karakter mereka cenderung lebih “vokal” dalam menyuarkan aspirasi –suatu hal jarang dapat diterima dalam kultur politik yang dominan dewasa ini.
Perbedaan persepsi di atas tidak memberi kejelasan bagi mahasiswa tentang peran yang harus mereka lakukan. Mahasiswa sebagai partner pemerintah pun kalau hal itu yang dikehendaki, tetap saja memerlukan penjelasan lebih tegas dan tuntas.
Dua persyaratan
Sebelum sampai pada usaha menjadikan mahasiswa sebagai partner pemerintah, sekaligus unruk mempertemukan persepsi yang berbeda, paling tidak ada dua hal yang perlu dipikirkan.
Pertama, perlu ada kebijaksanaan yang lebih realistis dan akseptabel bagi mahasiswa bahwa Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) ditujukan bukan untuk mengekang aktivitas mahasiswa di bidang kehidupan sosial dan politik, melainkan untuk membangun mahasiswa agar mampu menguasai ilmu dan teknologi. Jika dikaitkan dengan pengabdian pada masyarakat, maka penguasaan ilmu dan teknologi tersebut akan meningkatkan kualitas partisipasi mahasiswa dalam menata kehidupan masyarakat.
Kedua, dirasa perlu mengurangi kecurigaan yang berlebihan terhadap aktivitas mahasiswa. Pemberian kelonggaran –kelonggaran bagi kegiatan mahasiswa yang erat kaitannya dengan masalah –masalah kemasyarakatan sangatlah mendukung mantapnya peran yang diharapkan. Selama ini sangat menonjol kecenderungan untuk lebih merestui kegiatan-kegiatan mahasiswa yang lebih bersifat rekreatif yang dampaknya bisa dilihat dari kenyataan akan mandulnya kepekaan mahasiswa terhadap realitas kehidupan masyarakat.
Konsep NKK saat ini masih dirasa memerlukan penjabaran lebih lanjut; antara lain menonjilkan unsur kepekaan mahasiswa yang lebih tajam terhadap lingkungan masyarakat yang lebih luas. Bagaimanapun juga kita tidak menghendaki NKK sebagai produk yang akan menyingkirkan kepekaan mahasiswa dari realitas sosial.
Apa dan bagaimana kesinambungan usaha untuk memberi peranan mahasiswa yang lebih nyata sebagai partner pemerintah tentu lebih banyak bergantung kepada kesamaan kita tentang eksistensi mahasiswa yang bukan merupakan kelompok eksklusif dalam masyarakat Indonesia. Apa pun konsekwensi yang menyertainya, menempatkan mereka pada posisi wajar sebagai bagian dari barisan pembaharu, tampaknya lebih relevan dengan situasi saat ini. (Kompas, 24 Agustus 1988, hal. 4)
Tuesday, December 21, 2010
PemiluKaDa: Lenggang – lenggok Kuasa (Seputar Pemilihan Bupati Karo)
Saya sedang membaca berita tentang keputusan Mahkamah Konstitusi tentang sengketa Pemilukada Karo yang menyatakan Mahkamah Konstitusi menolak permohonan sengketa pemilihan kepala daerah Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara yang diajukan oleh pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Karo Riemenda Ginting dan Aksi Bangun.
Ringtone mobile phone saya dengan lagu “Catch the rainbow” berdentang. Seorang kawan lama bernama Buahbara Karosekali memanggil. Katanya: “Omong kosong PemiluKaDa Karo baru-baru ini dilakukan sebagai pengejawantahan kuasa rakyat ! Ini hanya sebuah skenario pembohongan besar ! Rakyat tidak pada posisi mengendalikan suara, namun lebih pada posisi dikendalikan !” Lha, ada tiga kalimat yang meluncur dari mulutnya, dan tiga kali pula saya tersentak dengan aksentuasi ucapannya. Ketiga kalimatnya wajib diakhiri tanda seru.
Roberth Dahl dalam tulisannya yang berjudul “After The Revolution” memunculkan kata “royal lie” untuk menunjukkan kebohongan-kebohongan kaum elite. Maknanya bahwa dalam politik memang ada kebohongan. Terminologi yang digunakan bisa sedemikian halus seperti: kebijakan, strategi, atau diplomasi. Lihat saja “uang sogok” telah diubah menjadi “uang perahu”. Belakangan ini malahan muncul istilah “biaya sosialisasi untuk kader partai”. Ini juga sebuah kebohongan !
David E. Apter yang juga dulu banyak dirujuk pemerhati politik Indonesia menggunakan ungkapan “penjual obat param ular” untuk menggambarkan orang-orang yang sedang kampanye untuk menggapai kekuasaan. Maknanya, ilmuwan politik ini juga menyadari bahwa para “power seeker” atau petualang kekuasaan akan bersedia menebar kebohongan agar barang jualannya dibeli masyarakat.
Apakah sahabat saya Buahbara Karosekali bicara tentang pembohongan besar PemiluKaDa Karo dalam konteks yang sama ? Apakah dia telah memiliki data mutakhir tentang perkembangan terbaru dari rumor yang beredar ? Saya belum sempat tahu. Tadi pagi dia telah pergi ke Banten untuk menemui Kang Jajat pedagang penampung sayur-mayur yang tinggal di Tangerang. Saya masih ingat salah satu pernyataannya baru-baru ini: “Kalau kau memerlukan informasi politik yang paling akurat, carilah pada rumor (kasak-kusuk) yang beredar di kedai kopi.
***
Di ujung wilayah Padang Bulan, di sudut sebuah persimpangan jalan menuju Jalan Setia Budi, ada sebuah kedai kopi yang setiap pagi ramai dikunjungi. Teh manisnya wangi, kopinya merangsang selera, terlebih-lebih lagi teh susunya. Ada 8 meja disana dan masing-masing dikelilingi 4 – 6 kursi. Maka pukul rata ada 40 orang pengunjung dalam setiap periode kunjungan pada pagi hari mulai jam 07.00 sempai dengan 10.00 WIB. Menurut salah seorang pelanggan, setiap harinya ada 100 kunjungan pelanggan di kedai itu. Setiap pelanggan akan duduk, minum, ngobrol atau membaca koran untuk mengikuti perkembangan mutakhir. Obrolan paling menarik hari-hari belakangan ini adalah PemiluKaDa Karo.
Menurut perkiraan mereka, pada PemiluKaDa Karo putaran kedua, pemenangnya adalah pasangan Kena Ukur Sitepu/Terkelin Brahmana. Dasar hitungannya adalah distribusi suara berdasarkan komposisi etnik dan perkembangan rumor PemiluKaDa serta aspek hukum yang akan menyertainya. Wah, hitung-hitungannya tidak kalah complicated dibandingkan dengan diskusi masyarakat akademik. Bedanya, mereka tidak menggunakan data BPS atau data forecast dari masing-masing team sukses.
Namun yang menarik lagi, dalam perkiraan mereka, siapa pun yang menang tidak akan mengubah wajah Karo secara signifkan. Bang Zainuddin yang jualan nasi goreng pada malam hari di Pasar Kaget, tidak akan memperoleh untung lebih banyak setelah Bupati dan Wakilnya terpilih. Janji pemerataan kesejahteraan masih jauh api dari panggang. Mari dicermati, semua janji yang dikedepankan para calon seperti peningkatan kesejahteraan petani dan pedagang kecil, perbaikan pendidikan atau perbaikan pelayanan kesehatan adalah produk dari proses administrasi negara. Namun mereka tidak ada yang mengedepankan reformasi birokrasi. Padahal aspek ini termasuk sebagai salah satu persoalan terpenting. Mesin kebijakan adalah birokrasi. Dan birokrasi pemerintahan Karo termasuk buruk. Ingat saja ejekan dari akronim SUMUT (Semua Urusan Memerlukan Uang Tunai) yang wilayah Karo termasuk di dalamnya.
Belum begitu banyak kita mengalami bahwa perubahan pejabat telah mengubah kinerja birokrasi pemerintahan. Nasib bangsa kita dari Sabang hingga Merauke lebih kurang ya sama. Pejabat bisa berubah namun perilaku tatkala memomong kekuasaan setali tiga uang. Ranah kekuasaan adalah kemewahan dan kebohongan, terkadang bercampur ancaman atau kekerasan. Jarak Indonesia masih sangat jauh dari jangkauan Ratu Adil. Masih terlalu banyak gelimang kenistaan yang menyebabkan Ratu Adil menunda perlawatannya ke sini.
***
Tetangga saya, bernama Bisuk Sianbona kampung asalnya Tolping, Samosir memiliki perkiraan yang berbeda. Menurutnya yang menang adalah pasangan Siti Aminah/Salmon Sagala. Dasar perhitungannya adalah ikatan kepartaian, etnisitas dan intuisi.
Yang menarik adalah perkiraan di kedai kopi dan perkiraan tetangga saya sama-sama memperhitungkan kehadiran faktor etnisitas. Apakah ikatan etnisitas memang benar-benar mempengaruhi orientasi politik masyarakat kita ? Jika ya, mengapa jumlah kursi yang diperoleh orang Karo di DPRD Provinsi dan DPR tidak sejalan dengan potensi yang dimiliki?
***
Lenggang-lenggok kekuasaan ternyata tak jauh berbeda dengan lenggang-lenggak penari sendratari di panggung-panggung seni. Ketika sang penari bergerak melenggang ditimpali sebuah ketukan kendang, tiba-tiba dia melenggok ke samping kiri dan kanan. Gerakannya tidak bisa digambar dengan kurva linear. Bahkan pada tari improvisasi gerakannya acak tidak menentu arah.
Maka panggung PemiluKaDa Karo sepertinya juga laksana panggung tari. Makna potongan-potongan gerakannya hanya dipahami sang sutradara. Akankah komposisi dan distribusi suara merupakan pengejawantahan kemenangan rakyat, masih sangat diragukan. Terlalu naif rasanya kalau kita tidak meyakini bahwa pasangan calon yang membelanjakan uang hingga puluhan milyar tidak mampu membelokkan hati nurani. Maknanya sama dengan banyak kasus dimana seseorang memilih calon bukan karena hati nurani. Namun karena tekanan psikologis hingga tekanan ekonomi atau karena hobby!
***
Saya menengadah sambil menerawang jauh. Sayang sekali, kami belum mampu menciptakan sistem rekrutmen pejabat politik yang mengharuskan para calon pemilih harus menelisik kemampuan calon dalam hal penyusunan dan implementasi program yang realistik. Atau agar ada mekanisme seleksi calon sebelum dilakukan pemilu. Sebelum mereka maju menjadi calon, mereka telah diseleksi terlebuh dulu, ibarat melalui fit and proper test. Agar para pemilih tidak terlalu mudah terprovokasi para petualang politik yang mencari keuntungan diantara para calon. Mungkinkah itu ?
Ringtone mobil phone saya berdentang lagi. Keponakan saya yang ikut team sukses salah seorang calon Bupati Karo memanggil. Katanya: “Jangan lupa ya dalam pemilihan Bupati putaran berikut Pa Uda pilih X ya ! Beritahu kepada mertua Pa Uda juga. Kalau dia gak pilih X, aku akan jatuh sakit !”
Akh...!!!
Friday, June 20, 2008
Siapakah yang akan Dipilih ?
Pemilihan Gubernur Sumatera Utara kali ini terasa istimewa. Ini adalah pertama kalinya masyarakat secara langsung memilih sendiri Gubernurnya. Masyarakat yang pada sistem pemilihan lama banyak menuding bahwa pemilihan yang dilakukan oleh para anggota DPRD tidak mewakili aspirasi, akan diuji kemampuannya untuk memilih calon terbaik.
Apakah masyarakat mampu memilih calon terbaik ? Jawabannya akan ditemukan beberapa hari setelah tanggal 16 April 2008. Jawaban yang paling nyata adalah ketika Gubernur terpilih mulai bertugas. Disitu akan dapat dilihat apakah dia menjalankan kewenangannya sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat ataukah kepentingan dirinya sendiri.
Karena itu, sebelum memilih ada baiknya kita mengingat-ingat kemungkinan beberapa jebakan yang menyebabkan kita salah dalam memilih.
Primordialisme
Jebakan pertama yang dapat menyebabkan masyarakat tidak berhasil calon yang terbaik adalah paternalisme. Beberapa pengamat di Sumatera Utara telah wanti-wanti atas kemungkinan jebakan ini.
Hitung-hitungan semacam ini belum pasti benar. Kelompok-kelompok agama telah semakin dewasa. Mereka kian telah mampu memisahkan antara label agama dengan perilaku kekuasaan. Telah terlalu banyak bukti untuk menunjukkan bahwa seseorang akan membelakangi ajaran agamanya ketika berhadapan dengan kepentingan praktis kekuasaan.
Kelompok-kelompok etnik juga cenderung tersekat-sekat karena berbagai pertimbangan. Masyarakat Sumatera Utara yang mengalami pembelahan saling silang secara sosial tidak dengan sendirinya akan memilih calon dengan etnisitas yang sama. Skenario lain adalah faktor pengalaman masa lalu memiliki pemerintah yang kentall dengan ikatan etnisitas sehingga ada nama-nama yang berasal dari etnik tertentu justru berusaha dihindari. Disamping itu, perlu diperhatikan bahwa di Sumatera Utara tidak ada etnik yang dominan yang gabungan suaranya pasti dapat memenangkan calon. Apalagi, ada beberapa calon dari pasangan calon yang berasal dari etnik yang sama. Sehingga suara kelompok etnik yang dimaksud juga akan menyebar.
Namun, berdasarkan info dari “curi-dengar” beberapa diskusi di warung pinggir jalan, obrolan antartetangga, hingga obrolan di kantor tampaknya jebakan primodialisme tiba-tiba bisa berpengaruh. Kalau faktor ini berpengaruh maka peluang terpilihnya calon yang “not excellent” bisa terjadi.
Money Politic
Jebakan lainnya adalah politik uang (money politic). Jika masyarakat memang benar-benar dapat dikendalikan dengan uang, maka jelas masyarakat akan memilih mereka yang paling “pemurah” menghambur-hamburkan uang. Namun ada kasus pemilihan, dimana pemilih ternyata tidak tergoda dengan uang. Mereka terima uang, namun mereka pilih sesuai dengan nuraninya.
Perlu dicermati juga bahwa petugas penghitung suara dan pengawas bisa ikut melakukan penyelewengan dalam penghitungan untuk memenangkan calon yang “membeli”nya.
Kekerasan
Tekanan yang sama bisa terjadi terhadap masyarakat pemilih. Upaya yang dilakukan untuk menghindarinya adalah berusaha ikut larut kedalam kelompok-kelompok sosial, termasuk kelompok ketetanggaan. Bersama-sama dengan kelompok dapat dibangun kesepakatan untuk saling menjaga walaupun preferensi pilihan kemungkinan berbeda.
Pihak kepolisian telah menyatakan sikap tegas bahwa tidak akan memberikan toleransi terhadap pelaku kekerasan. Terbetik kabar bahwa penembak jitu juga telah disiapkan untuk mengantisipasi munculnya kekerasan.
Siapa yang layak Dipilih ?
Perlu pula diketahui bahwa sang calon tidak sedang menggunungkan hutang selama mengikuti proses Pilkada. Semua orang tahu bahwa jika ada hutang semasa Pilkada, maka pembayaran utang pasti bersumber dari pekerjaan dan jabatannya. Informasi semacam ini mudah diperoleh dari rekanan kerja sang calon selama ini. Melalui rekanan kerjanya ini para pemilih dapat mengetahui apakah sang calon termasuk ganas atau tidak melahap anggaran pembangunan. Terkadang bisa pula diperoleh informasi tentang orang-orang yang menalangi segenap biaya atau belanja yang diperlukan sang calon selama melakukan hubungan dengan partai politik, sosialisasi hingga kampanye.
Pertimbangan lainnya adalah menyangkut visi sang calon terhadap reformasi birokrasi. Sebagian besar orang tahu bahwa masalah yang paling besar dalam pemerintahan kita adalah keburukan birokrasi pemerintahan. Hingga saat ini kita belum memiliki birokrasi yang berdisiplin, effisien dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Maka calon yang memiliki visi yang jelas dan terukur dalam hal reformasi birokrasi tentu perlu dipertimbangkan untuk dipilih.
Akhirnya, beberapa hari lagi kita akan memilih. Pilihan kita menentukan masa depan Provinsi Sumatera Utara selama 5 tahun ke depan. Mari bersama-sama menjadikan masa depan adalah milik kita, bukan milik penunggang-penunggang kekuasaan mempertunjukkan sepak-terjangnya dan berpesta-ria dengan segala kemewahan yang kian memiskinkan rakyat.
Wednesday, June 4, 2008
Antara Medan dan Yogya
Beberapa bulan yang lalu, ada seorang teman dari Yogya datang ke
Sesampainya di hotel, dan setelah selesai memberesi barang-barang dan tas, kami pergi makan soto dan minum juice Terong Belanda ke salah satu warung soto terkenal di jalan Gatot Subroto Medan. Komentarnya, Soto Medan rasanya lebih “meriah” daripada soto yang dijual di Yogya. Santannya lebih pekat, dan bahan bumbunya lebih beraneka macam. Sedangkan, juice Terong Belanda rasanya asam, tapi citarasanya khas dan “uenaaak”.
Pohon Pinggir Jalan
Sepulang makan soto, kami melewati jalan Sudirman
Saya teringat, dulu di jalan Malioboro berderet pohon palm yang rindang yang menambah daya pikat untuk berjalan sepanjang jalan sambil menikmati souvenir hasil kerajinan tangan yang dipajang sepanjang emperan toko. Namun pada tahun 1980an, palm-palm tersebut harus ditebang dengan alasan pembangunan/pengembangan wilayah Malioboro. Berbagai protes dari masyarakat termasuk almarhum Romo Mangun tidak digubris. Pada segmen lain di
Saat ini, di jalan protokol di sekitar dan hingga stadion Kridosono; juga pada beberapa titik di Kompleks UGM Bulak Sumur, kita dapati pohon-pohon rindang yang memberikan suasana keteduhan. Tapi semua itu hanya terasa hanya secuil dibanding keseluruhan luas wilayah dan panjang ruas jalan yang ada di Yogya. Begitu juga di
Kelihatannya, juga masih secuil jumlahnya pemerintahan
Pada hari lain, sang teman dari Yogya itu minta diajak untuk menikmati the other side of
Teman saya bercerita juga tentang the other side of Yogya juga ternyata menarik. Tempatnya di Alun-alun Kidul. Pada malam hari, banyak orang datang ke